Senin, 30 Januari 2012

Diary Biru


Bismillahirrahmanirrahiim,


Gadis berpostur sedang itu berdiri. Tugasku semakin menumpuk, gerutunya pula. Lagi. Dan semua terbengkalai begitu saja. Tumpukan kaos kakiku yang sudah seminggu ini belum sempat ku kucek. Walau satu saja. Alhasil, aku mesti ngubek kardus sarimie, tempat kaos kaki biasa kusimpan. Bikin lama. Adanya satu putih bening, satunya lagi putih coklat. Daripada tidak ada, ku pakai juga kaos kaki belang itu, lagian sudah telat pula. Teringat juga dengan  tumpukan tugas kuliah. Satu-satu antri minta tangan-tangan rajinku untuk kembali menjamah lembaran kertas itu. Sudah kususun rapi sebenarnya, mana yang harus kukerjakan hari ini, mana yang harus ku tunda besok. Tapi hingga dua pekan ini, aku malas sekali untuk mengecek atau sekedar untuk melihatnya. Ditambah dengan  jadwalku yang padat sekkali. Wara-wiri kadieu kaditu. Pusing....Bingung. Sudah banyak pekerjaan numpuk, masih mau menambahkan jadwal acara di Diary Biru, tempat coretan curahanku sehari-hari. Ada-ada saja, atau Ada yang lebih merasakan hal seperti diriku? Haduh...kenapa aku jadi kemerungsung seperti ini. Lagi. Dan gadis berpostur sedang itu  benar- benar menggurutu.

Jalan memanjang itu kususuri dengan pandangan kosong. Desiran angin yang menggerak-gerakan ujung jilbabku, sedikitpun tak memberiku kesan untuk sekedar merasa terbuai. Atau bahkan membuatku sedikit menarik otot-otot pipiku untuk tersenyum pada lalu lalang manusia yang mengenal rupaku. Manapula yang mau menyapaku dengan mukaku yang kiut seperti ini. Disangka mirip keong racun siy iya, wong jalanku ini lo, pelan sekali. Seperti membawa beban di pundak berton-ton.  Oops...ah ada apa denganku sebenarnya. Manapula lah ada orang yang mau menyapaku.  Plus  jalanku yang mirip tidak punya nyali untuk menatap kearah depan, sampai-sampai pundakku harus ditepuk berkali-kali ketika teman satu kostku menghampiriku. Lalu seakan semua sudah tahu dari raut mukaku yang mirip kerupuk diguyur sambal kacang, jika sudah begini, tidak karu-karuan. Tersenyum tapi dengan mimik mati. Raut muka melebar tapi tidak tersenyum. Apa ada yang bisa membahasakan apa yang kini menimpaku???

”Ada apa?” Kak Elsa, teman senior di kost ku merespon. Respon pertama dari yang sudah-sudah lantaran jawabku ya itu tadi. Tidak karu-karuan. Tersenyum tapi dengan mimik mati. Raut muka melebar tapi tidak tersenyum.

”Curhat juga bisa membuka masalah kok Rhei, jangan terlalu berburuk sangka kepada orang lain”. Terangnya membuka pembicaraan, yang mendapatiku dengan faceku yang masih kiut. Kini senior ku itu menatap retina kecilku. Seorang senior yang baik, meski ia tengah disibukkan dengan skripsinya, mau juga memperhatikan mimikku yang akhir-akhir ini memang garing dari senyum. Jika senyum pun, hanya bertahan dua detik diraut pipi. Ah, macam manapula kedaanku ini. Sambil melangkah perlahan, kami menepi pada dahan pohon nan rindang, sejenak menempatkan kaki-kaki kami yang terasa sudah pegal, untuk kami luruskan pada lantai bumi yang rindang oleh dedaunan pohon. Tak mengapalah lesehan sejenak.

”ya anggaplah berbicara kepada buku diary, meski tidak memberi solusi, tapi hati merasa tenang, karena segala yang kita pikirkan sudah tidak ditampung sendiri. Istilahnya udah tercurahkanlah” ia memberiku senyum manis. Senyum yang jelas berbeda denganku. Tidak mampir dua detik, juga benar-benar menyiratkan senyum yang tidak bohongan. Ah,,, aku berlebihan sekali.

”malam ini ada jadwal untuk muraja’ah, siapa tahu selesai murajah nanti Rhei bisa leluasa menuliskan kata hati Rhei pada orang yang bisa Rhei percaya” kalimat itu diiringi dengan senyum terbaikknya, lalu berpamit ria, meninggalkan diriku yang masih terduduk.  Langkahnya terayun agak cepat, tersenyum penuh kemenangan sambil menatapku, meninggalkan diriku yang kalah, kalah oleh kecamuk hati yang kini kurasa. Kak Elsa memang tahu mengenai tabiat jelekku ini, sedang ingin sendiri, selalu begitu alasanku. mungkin lantaran alasanku itu hingga dirinya cepat berlalu dari diriku. Ah, terkadang apa yang diketahui orang lain tidak selalu berlaku tetap.  Diary Biru ku keluarkan, kupangku dengan kedua kakiku yang kulipat. Sabodo dengan yang melihat tingkahku yang ini.
”Kak Elsa memang baik Ry, tadi ia menyinggungmu. Tapi tidak menyakitimu dengan kata-katanya yang tidak bisa tinggal diam jika berbicara tentang kebenaran. Beda dengan teman yang lain ya”

”kalau ada masalah cerita saja Rhei, apa susahnya si bercerita. Hati tenang, beban berkurang, tekanan perasaan juga tidak ada. Masa bisanya hanya sama Diary Biru” Rena mencibir beberapa hari yang lalu.

”sekali-kali bercerita ke teman yang bisa dpercaya gak ada masalahnya kok Ukhti, ketimbang hanya cerita ke Diary. Tidak ada jawaban, yang ada malah makin melarut-larut kan masalah” Luna ikut-ikutan, sesudah cibiran Rena masuk ke memoryku.

”ya sudah jika tidak mau cerita, nulis di Diary juga mungkin baik menurut Rhei” Ulya, sedkit lunak dari Rena, dengan waktu yang sama.  

Dan terakhir, sampai kakak senior ikut-ikutan menyingung sikap dinginku yang menurut sebagian teman-temannya kelewat batas. Muka kusut, senyum makin kerucut, jilbab kiut, mirip  uyut-uyut. Gitu omongan Nenni, langsung tanpa tedeng aling-aling, waktu yang sama pula. Ah aku jadi malu sendiri. Benarkah  aku sampai demikian. Tapi peduli apa mereka tentangku. Toh masalahku bukan lah hak mereka untuk bisa mengetahuinya. Lagi, Diary biru menjadi pilihan.

”Jika semua tahu bahkan semua teman-teman satu kost tahu, meski aku sendiripun sudah mengikhlaskannya. Apa benar meraka pun ingin mengiklhaskan perkataanku. Tentang kenyataan yang kini menimpaku . atau mungkin mereka semakin membenciku ya Ry”
”Aku memang terlalu ya Ry, meski sebuah buku, aku rela mengorbankan hak teman-temanku untuk tahu sedikit apa yang menjadi masalahku. Bahkan aku sudah sangat dzolim terhadap teman-temanku, sedikit pun dari teman-temanku tak ada yang tahu tentang permasalahan yang aku hadapi, lagi pula aku terlalu kolot dengan prinsip kurang baikku, banyak teman yang telinganya bermulut. Apa yang didengar langsung disebar, tanpa peduli benar atau tidaknya hal yang didengarnya tersebut, meski aku menepis itu ada pada teman-temanku. Kita semua memang satu halaqah,bahkan sering murajah bareng. Ah dasar memang diriku yang berpenyakit.”

”Penyakit?”
”Ya, satu kata itu”

Gara-gara penyakit  dalam diriku itu aku sering lupa. Lupa untuk mengucek kaos kakiku yang menggunung di pojokan mesin cuci. Lalu tugas-tugas kuliahku, lagi disebabkan lupa. Lalu...dan lalu....ah, gara penyakit dalam diriku itu pula aku menghindar curhat keteman-temanku. Mementingkan malu yang enggak baik ketimbang nyari pemecah masalah. Lalu teman-temanku pula yang menjadi korbannya. Mereka tidak menyukai sikapku yang dingin. Yang malas ngobrol apalagi diajak ngobrol .  Menyepelekan berunding ketimbang curhat ke Diary. Suatu akibat oleh sebab yang aku perbuat. Ah....

Aku memasukkan Diary biruku kedalam tas , lalu kembali memacu langkah kakiku agar dapat menyusul Kak Elsa. Jalanan memanjang itu berakhir kulalui. Ujung dari jalan tersebut sebelah kanannya adalah mengarah ke tempat kost Nurul Hikmah. Kost-kostan yang terkenal dengan penghuninya yang mencintai Al qur’an. Moga aku pun semakin mencintai Al qur’an ya ,amiin.

Setengah berbelok kearah kanan. Tepat di pojok kiri itulah hunian dua lantai itu berdiri. Rena menyambutku dengan sapaan khasnya. Menjulukiku dengan sebutan Mis Diary Biru, lalu menyapaku dengan salam. Jujur, gadis  seumur dengan ku ini sebenarnya sangat ramah, ia memang agak jor-joran soal omongan, namun sapaan hangatnya ketika menyambutku seperti menyambut tamu yang datang dari jauh. Menggenggam  erat tangan kananku, lalu memelukku seraya mengusap pundakku. Keibuan sekali. Jika Kak Elsa, lebih hangat lagi cara menyambutnya. Selain dipeluk juga usap pundakku, tangan-tangan cekatannya akan membantuku untuk membawa bawaanku. Si tas pungunggku selalu menjadi incarannya. Ulya lain lagi, ia biasa menyambutku seadanya. Seada stok sikap yang ia miliki, tapi dirinya selalu menang jika melihat gelagat ada temannya yang satu kost tertimpa masalah. Termasuk diriku. Ia lebih jeli mungkin karena kejeliannya itu jadi membentuk stok sikap seadanya. He, afwan ya Ulya. Duh, mengingat sikap-sikap nan mulia dari teman-teman kost ku ini, aku jadi malu. Kak Elsa, Rena, maupun Ulya tidak patut untuk kusandingkan bahkan menjadi saingan si Diary biruku . Ah,,bahkan mereka menang dalam hal apapun terlebih ketika kedatanganku ke Kostan tercinta  ini. Tidak ada satupun dari ketiga nya menyambutku dengan sikap diamnya. Ah...Diary Biru, menyambutku saja tidak bisa, apalagi memecahkan masalah.
Duh....manalah yang bikin runyam dari perkataanku ini .

###

Keesokan harinya,

Dengan tampang yang berseri-seri ketika menyambut pagi. Selesai jadwal muraja’ah rutinnya. Aku sibuk membuka pintu kamar teman-temanku yang masih tertutup rapat. Menarik Kak Elsa yang masih sibuk memegang Al Qur’an, meminta Ulya plus Rena untuk mengekorku dari belakang. Pagi ini pokoknya heboh oleh aksiku yang tidak seperti biasanya.

”Ada apa ukhti sebenarnya?”

Serempak dan kompak, kata itu yang keluar dari mulut Kak Elsa, Rena, Luna, Ulya, dan Risma. Wuih,,,macam kuis bikin tema kompak gitu. Aku nyengir kuda. Jarang-jarang hal ini bisa kulakukan. Tapi sudahlah, sudah terlanjur mengumpulkan mereka. Lagian juga sepuluh menit lagi lima sohib satu cita-cita itu sudah akan balik ke kamar masing-masing.

Kak Elsa penasaran, Risma sedikit mengkerut, Ulya plus Luna satu face dengan Risma. Mengkerut sekali. Ini jadwal untuk murajaah Bu, mungkin begitu bahasanya. Tapi please deh. Aku minta waktu sebentar saja. Sebentar untuk kebaikan  yang tidak sebentar. Semuanya kubawa pada ruang tengah yang biasa digunakan untuk belajar bersama.
”Afwan sebelumnya”
Kak Elsa tersenyum ringan, seperti bisa menebak apa aksiku selanjutnya. Ia lebih mendekat ke arahku, Luna Ikut-ikutan, yang lainnya benar-benar kompakan. Ikut pula mendekat ke arahku, meski face penasaran masih tertahan pada diri masing-masing.  
”Boleh kapan-kapan aku mau curhat” ringan sekali kalimat itu menguncur dari pita suara ku.
Lalu dengan kompakan pula berkata ” ya ampun ukhtiii....” dan semua seperti ingin menjitak kepala ku dengan ringan, kecuali Kak Elsa yang senyumnya makin berkembang. Benar-benar tidak dua detik.
Allohumma, adakah yang lebih indah dari persaudaraan karnaMu ini. Maka ikatkanlah kami dalam barisan orang-orang yang senantisa bersyukur kepadaMu. Diary biru kubuka, mencatatkan pada lembarannya akan hal yang kini kurasa indah juga.

Bogor, 5 Mei 2011


Rumah Tercinta,
Ayesha Tiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar